Mendidik Anak yang Cermat (Suatu Pemikiran dalam Konteks Psikologi dan Perkembangan Anak)

Oleh

Yena Sumayana, M.Pd

Dosen Tetap STKIP Sebelas April Sumedang

Anak adalah seorang individu yang belum dewasa yang perlu mendapatkan pertolongan dalam perkembangannya baik fisik maupun psikis. Selain itu, anak juga merupakan individu yang unik yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam memahami potensi dan karakteristiknya. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan juga memiliki kelebihan masing-masing. Berbedanya suatu anak dengan yang lain menunjukkan bahwa setiap anak adalah unik. Sebagai guru dan orang tua sebaiknya kita jangan membandingkan anak satu dengan lainnya. Jika ingin memotivasi anak bandingkan anak dengan prestasi atau diri anak itu sendiri. Misalnya tunjukkan peningkatan yang telah dicapai meskipun proses peningkatan yang telah diupayakan sedikit atau lambat. Hal tersebut dapat dilihat dari proses tumbuh kembangnya, seperti perubahan secara fisik dan meningkatnya kemampuan anak berpikir serta menggapai emosi. Keunikan setiap anak menjadi ciri khas yang menonjol, pada setiap fase perkembangan. Dengan mengetahui ciri khas yang menonjol pada setiap anak kita akan lebih mudah melakukan pendidikan yang sesuai atau tepat.

Dalam proses perkembangannya anak memerlukan lingkungan sebagai tempat menggali pengetahuan dan mencari pengalaman. Lingkungan tersebut adalah lingkungan pendidikan salahsatunya sekolah. Di sekolah tentu saja anak akan mendapatkan berbagai hal yang baru melalui kegiatan belajar. Kegiatan belajar merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa atau berbagi pengalaman antara orang dewasa dengan orang yang belum dewasa. Mendidik anak tentu saja bukan perkara yang mudah dan sederhana. Akan tetapi diperlukan berbagai hal dalam pelaksanaannya. Mengapa demikian? Karena mendidik pada hakikatnya berkaitan dengan peningkatan kualitas manusia menuju kesejahteraan. Sebagai pendidik (guru), kita sangat dituntut untuk memiliki kreativitas dalam mengajar atau mendidik anak untuk menjadi pintar dan membuat suasana belajar menyenangkan anak. Kreativitas tersebut dilakukan guru dalam menemukan atau membuat sesuatu yang baru, orisinil, dan memberi manfaat. Hal tersebut dapat berupa strategi maupun hasil karya tertentu dalam pembelajaran. Kemampuan guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran dapat memberikan stimulus bagi anak sehingga anak mudah menerima materi yang diajarkan. Selain itu, tujuan pengembangan strategi pembelajaran adalah membantu mengungkap potensi atau kemampuan dasar yang dimiliki anak, melatih keberanian berekspresi, menanamkan nilai-nilai moral, dan timbul pandangan positif pembelajaran yang menyenangkan. Dalam proses pembelajaran guru merupakan sosok istimewa yang “digugu dan ditiru”. Tentu saja guru harus memiliki sikap atau prilaku baik untuk dicontoh oleh anak didiknya. Di antara sikap atau prilaku yang harus dilakukan guru ketika melakukan proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) sikap berpakaian, 2) sikap berbicara, 3) sikap bertoleransi, 4) sikap di depan kelas, 5) sikap memberi hukuman, 6) sikap memberi penilaian, dan 7) sikap bertanggung jawab.

  • Sikap Berpakain

Ketika berpakain guru harus memberikan contoh yang baik bagi anak didiknya. Pakaian yang sepantasnya dipakai oguru adalah pakaian yang rapih, sopan, dan sederhana. Tetapi tetap meperhatikan keindahan dan perkembangan zaman. Berpakaian yang berlebihan akan mendapatkan celaan dari anak bahkan pandangan negatif dari lingkungan sekitar. Hal demikian, merupakan sikap berpakaian yang memmungkinkan anak menyontoh gurunya baik guru yang berpakaian sederhana maupun berlebihan.

  • Sikap Berbicara

Pepatah mengatakan “mulutmu harimaumu” makalah jaga mulut kita dari berbagai ucapan yang kotor. Sikap berbicara yang baik tidak harus tersusun secara komprehensif, akan tetapi memberikan suatu makna khusus serta mengandung unsur positif. Dalam berbicara sikap guru haruslah bersikap santun. Jangan sesekali mengeluarkan kata-kata yang kotor. Maka dari itu, ajarilah anak didik kata-kata yang baik, bermakna, dan bermutu sehingga mereka terhindar dari kata-kata yang kotor.

  • Sikap Bertoleransi

Proses pembelajaran merupakan interaksi antara guru dengan anak didiknya yang berlangsung secara berkelanjutan. Proses interaksi itu dilakukan dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Dalam hal toleransi, tentu saja guru harus bersikap adil kepada seluruh siswanya. Sikap toleran terhadap siswa merupakan manifestasi dari guru yang adil dan bijaksana. Guru toleran merupakan guru yang memahami dan mengerti kebutuhan anak didik. Dengan demikian, sikap torenan yang diberikan kepada anak didik akan menjadi contoh mereka untuk selalu bertoleransi dengan sesamanya.

  • Sikap di Depan Kelas

Keadaan atau suasana kelas tentu saja dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Kelas menjadi gaduh, kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. Bersikap tegas berarti guru menyuruh anak didiknya supaya tenang, mereka harus mengidahkan suruhannya. Kalau mereka belum tenang jangan memulai atau melanjutkan proses pembelajaran, tunggu sampai mereka benar-benar tenag. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda, bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar, maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Oleh kerena itu, peganglah teguh disiplin kelas, berbicaralah dengan tenang dan tegas.

  • Sikap Memberi Hukuman

Masalah boleh atau tidaknya pemberian hukuman, itu tergantung kepada kebutuhan. Hukuman yang cocok diberikan bagi anak didik adalah hukuman yang mendidik dan memberikan efek jera. Meskipun sekarang zaman telah maju dan berkembang, hukuman sebagai salah satu pengendali perilaku siswa masih relevan digunakan. Hanya saja, yang menjadi penting adalah bagaimana bentuk hukuman yang efektif agar dapat mengendalikan perilaku siswa, bukan hukuman yang membuat siswa menjadi sakit hati atau merasa tidak dihargai. Untuk itu diperlukanya kebijaksanaan seorang guru dalam mengendalikan sikap dan perilaku siswa dengan pendekatan yang positif. Seorang guru harus mampu mencari dan mendayagunakan berbagai metode agar yang akan menciptakan cara-cara mendidik yang efektif, menyenangkan dan manusiawi. Jika dengan berbagai cara tidak berhasil, penjatuhan hukumanpun harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

  • Sikap Memberi Penilaian

Penilaian merupakan evaluasi terhadap hasil kerja. Begitu pula pada saat proses pembelajaran penilaian sangat diperlukan untuk mengukur hasil belajar anak didik. Dewasa ini sering terjadi permasalahan pada saat guru meberikan penilaian pada anak didik. Salahsatunya, pemberian penilaian yang tidak adil. Ketidakadilan dalam penilaian pada saat pembelajaran bisa saja terjadi apabila guru tidak mempunyai sikap adil dan bijaksana. Pada saat penilaian hendaknya guru bersikap objektif serta hindari penilaian yang berbasis kedekatan, kekeluargaan, dan kekerabatan.

  • Sikap Tanggung Jawab

Tugas guru di sekolah selain mengajar adalah membentuk pribadi yang unggul, berkarakter, berwawasan luas, dan bertanggung jawab. Penanaman rasa tanggung jawab pada anak didik hendaknya dimulai dari gurunya itu sendiri. Memang dalam mendidik, seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Apabila rasa tanggung jawab tidak ada dalam diri seorang guru, maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan tidak tercapai.

Ketujuh sikap ini merupakan alternatif asumsi yang bisa dijadikan pegangan bagi kita sebagai guru dalam memperbaiki generasi emas kita demi kemajuan bangsa dan Negara. Guru adalah sosok yang paling mulia yang hendaknya memberikan suri tauladan bagi para anak didiknya.

Penulis : Yena Sumayana, M.Pd

(Dosen PGSD STKIP Sebelas April Sumedang/Calon Doktor Pendidikan Dasar)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Name *
Email *
Website