LITERASI ABAD 21

Oleh: Aulia Akbar, S.Pd., M.Pd

Sejarah membuktikan perkembangan suatu bangsa tidak terlepas dari sebuah pemikiran-pemikiran brilian. R. A. Kartini merupakan contoh seorang perempuan yang pemikirannya menginspirasi jutaan perempuan di Indonesia. Buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis Toot Licht)” merupakan kumpulan surat Kartini kepada Ny. Abendanon di Belanda. Sebuah tulisan yang bertransformasi menjadi sebuah gerakan perubahan. Gerakan yang mengibarkan bendera emansipasi perempuan dalam beberapa bidang, terutama pendidikan. Sebuah bukti nyata bahwa sebuah pemikiran yang dipublikasikan dapat begitu dahsyat mempengaruhi masyarakat dan bangsa. Pemikiran merupakan suatu bentuk kekuatan, agar kekuatan tersebut tersampaikan pada khalayak perlu adanya sebuah media. Media berupa lisan, tulisan, gambar, maupun audio visual merupakan jembatan sebuah informasi untuk dapat diterima masyarakat.

Pada era teknologi informasi seperti sekarang, setiap orang dapat menulis lalu menyebarkannya melalui media internet. Semakin banyaknya tulisan yang beredar, membuat pembaca bingung memilih mana yang termasuk informasi yang terbukti kebenaranya, atau sekedar hoax. Sejatinya, seseorang menyebarkan informasi dengan berbagai macam tujuan, diantaranya: memberi pencerahan, mengomentari, menghibur, mengajak bahkan memaksa. Perspektif penulis merupakan penentu utama kemana tujuan tulisan akan berujung. Masyarakat sebagai pengguna internet haruslah cerdas dalam memilah dan memilih informasi yang beredar. Kesalahan dalam menyerap informasi dapat berakibat fatal bagi perkembangan berpikir seseorang, terutama pembaca pasif. Kaum muda merupakan kelompok yang rentan influence, dimana masih dalam proses pencarian jati diri, dan mudah tersulut emosi. Bila dibiarkan akan berpotensi destruktif bagi perkembangan bangsa.

Menyerap informasi secara kritis atau literasi kritis, merupakan alternatif solusi atas permasalahan yang sedang terjadi. Literasi kritis mengajak sesorang untuk memiliki kemampuan bernalar. Membaca tidak hanya sekedar menyerap informasi, namun harus disertai dengan aktifitas bernalar. Bernalar dalam konteks ini mencakup daya berpikir logis, keterampilan mengolah informasi dari bacaan, serta kemampuan menyimpulkan dengan pemikiran sendiri.

Di Indonesia keterampilan literasi kritis belum disadari oleh semua pihak, termasuk pendidik. Aktifitas belajar yang tidak memberikan ruang nafas literasi kritis berkembang bebas. Membaca hanya aktifitas penyerapan informasi sebanyak-banyaknya, tanpa ada refleksi mengenai bacaan yang telah dibaca. Tidak heran bila siswa bingung bila dihadapkan pada informasi yang yang memerlukan pemahaman tinggi. Oleh karenanya, literasi kritis merupakan keterampilan yang harus dilatih di sekolah. Berdasarkan fungsinya sekolah merupakan sebuah wadah gerakan pemikiran. Guru adalah motor gerakan, sedangkan siswa adalah calon penggerak. Kesatupaduan antar dua pihak ini akan memberikan efek yang luar biasa bagi pekembangan pendidikan. Seluruh komponen sekolah harus memiliki keterampilan literasi kritis, sehingga dapat memanfaatkan informasi dengan baik. Informasi harus menjadi alat untuk mendorong perubahan ke arah masyarakat yang berpikir maju. Informasi yang dapat memberikan celah perubahan dan inovasi yang berguna untuk kemajuan bangsa dalam menyongsong adab 21.

Aulia Akbar

Dosen PGSD STKIP Sebelas April Sumedang

Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *